#CERPENSAYA Part 2: "Guru Terhebat Nia".

Guru Terhebat Nia Hari berjalan seperti biasa. Nia yang bangun tidur, mandi, lalu berangkat ke sekolah tanpa sarapan dengan sepedanya. Tidak peduli ini sudah pukul berapa, Nia masuk melewati gerbang tanpa ragu. Usai memarkir sepeda sembarangan, ia melangkah masuk melalui lobi depan. Persetan dengan wajah-wajah yang Nia lewati begitu saja tanpa sapaan. Melihat tampilan Nia dengan begitu teliti sampai-sampai mata mereka seolah keluar. Kalau Nia sedang ingin, Nia akan menatap mereka sama tajamnya. Biasanya, mereka yang kalah. Meninggalkannya terlebih dahulu takut akan terlibat pertengkaran dengannya. Seperti agenda rutin di sekolahnya, Nia diberhentikan di lapangan. Menjadikannya harus berdiri di bawah terik matahari yang mulai meninggi. Pak Hasan membenahi kacamata. Nia mulai bosan, ia lebih memperhatikan kuku-kuku berwarnanya daripada satpam umur 50-an yang mulai berdecak panjang. “Eh, eh, eh… Jam berapa ini, Nia?” “Jam delapan, Pak. Bapak punya jam.” Nia melirik...